Breaking

MERDEKA JAYA POS

Berita Jepara Indonesia Terkini Hari Ini, Berita Harian Terkini Terpercaya daerah Jepara terlengkap terupdate seputar Jepara dan Indonesia- Merdeka Jaya Pos.

Post Top Ad

Minggu, 11 Juli 2021

Ketua PPSWN Dorong Regulasi Ekspor Sarang Burung Walet Dipermudah

 

Ketua PPSWN Dorong Regulasi Ekspor dipermudah Karena Ekspor Sarang Burung Walet Tingkatkan Devisa Negara
Benny Hutapea Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN)

Ketua PPSWN Dorong Regulasi Ekspor dipermudah Karena Ekspor Sarang Burung Walet Tingkatkan Devisa Negara 

Merdekajayapos.com JAKARTA- PPSWN, Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara, Indonesia harus memperkuat diplomasi dan negosiasi dagang dengan China demikian ditegaskan oleh Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN) Benny Hutapea. Penegasan ini bertujuan untuk mengatasi hambatan Ekspor sarang burung walet dan porang ke RRT ( Republik Rakyat Tiongkok).


Kegagalan Diplomasi Dagang Ekspor Sarang Burung Walet, Indonesia Terancam Kehilangan Devisa

Kementrian Perdagangan RRT selama ini yang mengatur strategi negosiasi dagang RRT dengan Negara Mitra, General Administration of China Customs disebut (GACC) hanya " menerima pesanan" atau menjalankan policy yang sudah digariskan oleh Kementrian Perdagangan RRT.


Benny Hutapea Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN) mengatakan untuk mengubah policy tersebut, Kemendag, Kemenlu dan Kementan harus menyiapkan strategi yang tepat dimana Kemendag yang me-lead di depan.


Menurutnya, RI dapat memanfaatkan tekanan barat terhadap RRT dalam perdagangan global karena RRT mau tidak mau harus memperhitungkan Indonesia sebagai Mitra Strategis sehingga tidak seharusnya RRT membuat hambatan Ekspor sarang burung walet yang demikian berat.


Selain itu, RI harus berani mengatakan bahwa hambatan Ekspor sarang walet yang diterapkan RRT adalah bertujuan agar produk pertaniannya, khususnya jeruk mandarin masuk ke Tanjung Priok dan ayam potong dapat masuk ke Indonesia adalah strategi indirect non-tariff barrier RRT kepada RI dan tidak relevan karena RI mengalami defisit perdagangan sebesar US$17 miliar.


“Bagi RRT, impor langsung sarang walet dari RI tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap neraca dagang mereka dimana praktik indirect non-tarrif barrier yang dikenakan RRT terhadap ekspor sarang burung walet telah menghilangkan potensi US$ 2,2 Miliar (Rp 31 Triliun) dimana angka ini jauh lebih kecil dibanding nilai defisit perdagangan RI atas RRT,” kata Benny.


Benny menjelaskan bila RRT tidak serius menghilangkan hambatan Ekspor sarang walet Indonesia, Pemerintah dapat memberlakukan tambahan tindakan serupa (Counter Measure) berupa Registrasi, Audit dan Pemeriksaan Karantina di tempat asal terhadap produsen RRT untuk produk olahan hewan atau tumbuhan sebagaimana dipersyaratkan Tiongkok untuk sarang walet RI.


Di sisi lain, PPSWN menegaskan bila ada tawaran RRT untuk membeli bahan baku sarang wallet atau sarang walet setengah jadi dalam jumlah besar, RI jangan pernah mengakomodir karena akan merusak industri pengolahan sarang walet yang sudah banyak berdiri di tanah air.


PPSWN Desak Kemendag dan Kementan Review pemeriksaan karantina yang tidak lazim

Selain hambatan dari luar Benny menambahkan Pemerintah perlu menghilangkan hambatan dalam Negeri dengan merevisi Peraturan Menteri Perdagangan No. 51/M-DAG/PER/7/2012 dengan menghilangkan pemeriksaan karantina yang tidak lazim dalam perdagangan Internasional.


Kebijakan ini akan menghilangkan kesan bahwa karantina RI adalah kepanjangan tangan dari karantina RRT.


 “Mekanisme tersebut dapat digantikan dengan menunjuk independent surveyor sebagaimana best practice internasional dalam trading across border,” ujarnya.


Meskipun demikian, jika harus tetap ada ada pemeriksaan karantina pre-export untuk Ekspor ke RRT, harus ada Mutual Recognition Agreement (MRA) dengan RRT terlebih dahulu dan Service Level Agreement (SLA) di Kementan untuk menjamin kualitas, keamanan produk, kelancaran proses dan kepastian perizinan baik di dalam dalam negeri maupun setelah barangnya dikirim ke RRT.


Mengingatkan bahwa Kemendag bersama Kementan perlu me-review kembali Protokol Persyaratan Higenitas, Karantina dan Pemeriksaan untuk Produk Sarang Burung Walet dari Indonesia ke RRT antara Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan Administrasi Umum Pengawasan Mutu, Inspeksi dan Karantina Republik Rakyat China yang ditandatangani tanggal 24 April 2012" Benny. (@ries)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gunakan Kata Sopan, No SARA, Terimakasih.

Post Top Ad