Desa Dorang Selalu Banjir Akademisi Asal Dorang Minta Pengelola Waduk Kedungombo Berikan Solusi

Taufik warga Dorang bersama Babinsa Dorang memantau situasi terkini

JEPARA -  Banjir telah masuk di desa Dorang Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara.  80 persen kawasan persawahan telah tergenang air. Khusus dukuh Gempol, Dorang dan Tapen banjir sudah mulai masuk ke perkampungan. 

Banjir ini adalah limpasan dari SWD ( Serang Welahan Drainase) 1, akibat pintu air Wilalung yang dibuka untuk wilayah barat, menjadikan daerah Setro Kalangan, Banget , Gaming (Kudus) sudah terlebih dahulu tergenang air sejak Jumat lalu.

 Menurut Petinggi desa Dorang, Arief Soepratiknyo. SH, bahwa secara geografis desa Dorang adalah daerah cekungan diantara SWD ( Serang Welahan Drainase) 1 dan SWD 2 yang sangat beresiko terjadi banjir setiap musim penghujan. 

" Akibat banjir ini para petani mengalami kerugian puluhan juta rupiah akibat tanaman padi yang mati akibat banjir. Banyak diantara mereka yang menanam padi sampai 3 kali", terang Petinggi desa Dorang, Arief Soepratikto. Selasa 3/01/2023.

Air yang mulai naik ke pemukiman warga Dorang

Maka Petinggi desa Dorang berharap kepada pemerintah provinsi atau pusat untuk membuat sudetan / kanal untuk membuang air ke arah SWD 2. Supaya banjir cepat hilang. 

Melihat keadaan desa Dorang setiap musim hujan, Dr. Hardiwinoto  Warek ( wakil rektor)  UNIMUS Semarang yang asli desa Dorang  berpendapat bahwa pengelola  waduk Kedung Ombo juga harus memikirkan kompensasi dan solusi atas aliran air ini. Ketika musim kemarau tidak dikirimi air untuk pertanian tetapi ketika musim penghujan selalu menjadi pembuangan air. 

Taufiq Abu Darwisy,  warga Dorang berharap kepada lembaga pelaksana/eksekutif di Jepara membuat terobosan dan solusi agar desa Dorang tidak tenggelam setiap musim  penghujan. " Sebagai warga desa Dorang Kami mohon pihak terkait khususnya lembaga eksekutif datanglah, tengoklah untuk menguatkan secara spiritual dan material kepada warga Dorang yg terdampak banjir", himbau Taufik Abu Darwisy.


Edi sulton

Berita Selanjutnya Berita Sebelumnya
Belum Ada Komentar
Tambah Komentar
comment url