Sedekah Bumi Panggang Jepara ke-5 Ribuan Warga Rebutan Sego Ducang dan Ziarah Leluhur

JEPARA - Kelurahan Panggang, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara sukses menggelar puncak peringatan adat tahunan Sedekah Bumi yang ke-5 sekaligus Haul Mbah Buyut Panggang yang ke-28 pada Jumat (26/06/2026) malam. Bertempat di depan Pendopo Kelurahan Panggang, acara yang menjadi simbol rasa syukur dan persatuan warga ini dipuncaki dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk serta penampilan tari tradisional kontemporer.

Sedekah Bumi Panggang Jepara ke-5 Ribuan Warga Rebutan Sego Ducang dan Ziarah Leluhur
Lurah Panggang

Rangkaian kegiatan sakral ini telah berlangsung sejak Rabu (24/06/2026) yang diawali dengan tradisi manaqiban dan doa bersama demi kelancaran seluruh prosesi acara. Memasuki hari kedua pada Kamis (25/06/2026), kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil arwah massal di masjid-masjid dan mushola setempat, serta Khotmil Qur'an oleh ibu-ibu Muslimat dan Fatayat di Musala Nurul Iman saat zuhur. Berbarengan dengan itu, warga juga melangsungkan tradisi 'manganan' untuk menghormati dua tokoh ulama dan leluhur Kelurahan Panggang, yakni Mbah Lobo dan Mbah Gandik.


Tradisi Kepungan 'Sego Ducang' di Sepanjang Jalan Ki Mangunsarkoro

Puncak ritual adat keagamaan bergeser ke sepanjang Jalan Ki Mangunsarkoro setelah pelaksanaan salat Asar berjamaah. Ribuan warga lokal hingga masyarakat luar Kelurahan Panggang tumpah ruah memadati area makam Mbah Buyut Panggang yang terletak di belakang Musala Nurul Iman untuk mengikuti prosesi ziarah. Suasana keguyuban semakin terasa kental saat warga bersama-sama melakukan 'kepungan' atau makan bersama sajian khas berupa Sego Ducang di sepanjang jalan.

Lurah Panggang, Ahmad Sholichin, dalam sambutan resminya menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas terselenggaranya acara ini meskipun di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan. Ia mengapresiasi tingginya semangat gotong royong dan antusiasme masyarakat yang tetap menjaga kelestarian tradisi leluhur dengan penuh kesederhanaan.

Sambutan Lurah Panggang, Ahmad Sholichin:
"Alhamdulillah, kita semua bisa berkumpul malam ini dalam keadaan sehat. Pelaksanaan kepungan dengan sego ducang yang sederhana, sengaja disesuaikan dengan kondisi perekonomian saat ini. Namun, hal itu tidak mengurangi esensi keguyuban warga, di mana seluruh masyarakat Panggang dan sekitarnya tetap tumplek blek memadati sepanjang jalan Ki Mangunsarkoro untuk menjaga tradisi ini."

Lakon Dewa Ruci dan Esensi Filosofis Tari Kridhajati

Ahmad Sholichin juga menambahkan bahwa malam puncak acara ini dimeriahkan oleh pergelaran wayang kulit yang dibawakan oleh Ki Dalang Syarif Gondo Carito dengan lakon 'Dewa Ruci'. Karena lokasi pementasan berada di jantung pusat kota Jepara, pagelaran dibatasi hingga pukul 02.00 WIB demi menjaga ketertiban umum.

Tak hanya itu, pembukaan malam puncak juga dipercantik oleh penampilan Tari Kridhajati, sebuah tarian khas hasil kerja sama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara bersama sanggar Sekar Kinanti pimpinan Ibu Aris. Filosofi tarian ini secara utuh menggambarkan proses kreatif dan kerja keras para seniman ukir Jepara dalam melahirkan karya seni dunia yang mendunia.

Menariknya, agenda budaya tahun ini juga menarik perhatian dunia internasional. Pemilik (owner) Sasana Family Sport Center yang berkebangsaan Prancis dan Iran turut hadir langsung menyaksikan jalannya acara. Kehadiran mereka sebagai salah satu sponsor utama membuktikan bahwa pesona tradisi lokal mampu menjadi daya tarik wisata budaya global yang inklusif.


Sinergi Lintas Sektor di Jantung Kota Jepara

Di akhir sambutannya, Lurah Panggang memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada segenap unsur yang membantu kesuksesan jalannya acara di lapangan.

Elemen / Instansi Apresiasi & Peran
Keamanan & Medis Jajaran Polsek Jepara, Danramil, dan perwakilan Puskesmas Jepara.
Sektor Perhotelan Perwakilan dari Hotel Sajiwo.
Sponsor Swasta Graha Husada, JSN (Jaringan Sentra Nusantara) Pati, dan Keluarga Besar Pak Woko.
Sponsor Internasional Owner Sasana Family Sport Center (WNA Prancis & Iran).

"Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap panitia, seluruh warga yang terus mendukung keguyuban, serta para sponsor yang telah mendukung penuh kegiatan ini. Kelurahan Panggang istimewa, is the best selalu di hati," pungkas Ahmad Sholichin disambut riuh tepuk tangan warga.

Kapan Sedekah Bumi Kelurahan Panggang 2026 dilaksanakan?

Rangkaian acara sakral ini dimulai sejak Rabu, 24 Juni 2026 (Manaqiban) dan mencapai malam puncaknya pada Jumat, 26 Juni 2026 lewat pergelaran budaya.

Apa hidangan khas yang disajikan saat prosesi 'Kepungan'?

Warga Kelurahan Panggang menyajikan kuliner tradisional khas bernama Sego Ducang, yang dinikmati bersama-sama oleh ribuan warga di sepanjang Jalan Ki Mangunsarkoro.

Siapa dalang dan lakon wayang kulit yang dipentaskan?

Wayang kulit pada malam puncak dimainkan oleh Ki Dalang Syarif Gondo Carito dengan membawakan lakon filosofis 'Dewa Ruci'.

Apa makna di balik pementasan Tari Kridhajati Jepara?

Tari Kridhajati merupakan tarian khas hasil kerja sama Disparbud Jepara dan Sanggar Sekar Kinanti yang menceritakan filosofi kegigihan, kerja keras, dan proses kreatif para seniman ukir Jepara.


- LEON

Berita Selanjutnya Berita Sebelumnya
No Comment
Add Comment
comment url