Pameran TATAH 2026 Bikin Ukir Jepara Naik Kelas Jadi Seni Murni Bernilai Tinggi

 

Pameran TATAH 2026 di Museum Nasional Indonesia
Pameran TATAH 2026 bertajuk “Suluk Sulur Jepara" karya seni ukir murni bernilai tinggi dari kota ukir jepara akan digelar di  Museum Nasional Indonesia 

JEPARA – Pameran TATAH 2026 bertajuk “ Suluk Sulur Jepara ” mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Jepara dan akan digelar di Museum Nasional Indonesia pada 20 April hingga 5 Juli 2026. Pameran TATAH 2026 ini menjadi langkah strategis untuk mengangkat kembali identitas Jepara sebagai Kota Ukir melalui pendekatan kebudayaan, edukasi, dan pelestarian nilai seni tradisi.

Selain itu, Pameran TATAH 2026 diharapkan mampu memperkuat posisi ukiran Jepara sebagai karya seni murni (art piece) yang memiliki nilai tinggi, bukan sekadar produk kerajinan atau komoditas industri mebel.

Makna Filosofis Suluk Sulur Jepara

Tema “ Suluk Sulur Jepara ” dalam Pameran TATAH 2026 tidak hanya mengangkat motif dedaunan khas ukiran Jepara. Lebih dari itu, tema ini menekankan nilai filosofis perjalanan, pertumbuhan, serta kesinambungan budaya yang telah mengakar selama berabad-abad di masyarakat Jepara.

Dukungan Pemkab Jepara dan Pembukaan Pameran

Pameran TATAH 2026 resmi dibuka melalui soft opening pada 20 April 2026. Rencananya, acara ini akan dihadiri Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, serta sejumlah tamu kehormatan lainnya.

Sementara itu, pameran dibuka untuk masyarakat umum mulai 21 April hingga 5 Juli 2026.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menegaskan bahwa Pameran TATAH 2026 sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mengembalikan marwah Jepara sebagai pusat seni ukir Nusantara.

Pameran TATAH 2026 Seni ukir jepara
Bupati Jepara Witiarso Utomo

Upaya Mengubah Persepsi Ukiran Jepara

Menurut Pemkab Jepara, persepsi publik selama ini masih menyempitkan ukiran Jepara sebagai produk kerajinan semata. Oleh karena itu, melalui Pameran TATAH 2026, pemerintah ingin mengangkat ukiran sebagai karya seni murni yang tidak bisa dinilai dengan harga standar.

“Kami ingin ukiran Jepara tidak hanya menjadi produk kerajinan saja, tetapi suatu karya seni murni yang nilainya tidak bisa ditentukan oleh harga standar. Harapan kami, Pameran TATAH ini bisa bermuara pada peningkatan kesejahteraan para pengukir di Kabupaten Jepara,” tegas Bupati Witiarso.

Selain itu, pameran ini juga menjadi wadah redefinisi seni ukir yang merekam sejarah, keterampilan turun-temurun, serta filosofi mendalam yang telah diwariskan lintas generasi.

Tantangan Regenerasi Pengukir

Di sisi lain, Bupati Jepara juga menyoroti tantangan serius terkait regenerasi pengukir. Di tengah dominasi industri mebel massal, minat generasi muda untuk menekuni seni ukir murni semakin menurun.

Melalui Pameran TATAH 2026, Pemkab Jepara memandang ini sebagai momentum penting untuk menaikkan kelas profesi pengukir. Transformasi dari pengrajin menjadi kreator seni diharapkan dapat membuka akses ke pasar seni bernilai tinggi.

Langkah ini juga diyakini mampu menarik kembali minat generasi muda untuk melanjutkan tradisi luhur ukir Jepara.

Undangan Kolektor dan Peluang Global

Pemkab Jepara turut mengundang kolektor seni nasional maupun internasional untuk hadir dalam Pameran TATAH 2026. Momentum ini dinilai sebagai peluang besar untuk memperluas jejaring serta membuka kesempatan penyelenggaraan pameran seni secara berkelanjutan.

“Karena yang kita tampilkan adalah murni karya seni, semoga kolektor ternama bisa hadir. Mudah-mudahan ini menjadi ajang promosi yang sukses, sehingga ke depan kita bisa menyelenggarakan pameran serupa secara rutin,” pungkasnya.

Konsep Kuratorial dan Riset Mendalam

Pameran TATAH 2026 dirancang sebagai bagian pertama dari trilogi pameran hingga 2028. Direktur TATAH, Veronica Rompies, menjelaskan bahwa konsep pameran berangkat dari riset mendalam mengenai sejarah dan tradisi ukir Jepara.

Direktur Pameran TATAH 2026 Jepara
Direktur TATAH 2026, Veronica Rompies

Format eksibisi seperti ini masih tergolong jarang di Indonesia. Oleh sebab itu, tim berupaya menetapkan standar tinggi dalam kualitas penyajian dan narasi.

“Ini program yang sangat baru, sehingga kami tidak memiliki banyak referensi program sejenis. Mudahnya, kami bisa menentukan sendiri standar kualitas pameran ini. Sulitnya, jika kami bermain di standar rendah, tujuan menghadirkan kedalaman nilai tradisi tidak akan tercapai,” jelasnya.

Rangkaian Kegiatan Pameran TATAH 2026

Pameran TATAH 2026 akan menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari pemutaran film Kartini, pertunjukan seni (performing arts), peluncuran dan bedah buku hasil riset, hingga program edukasi publik.

Kualitas pameran ini juga dikawal oleh tim kurator yang terdiri dari Dr. Suwarno Wisetrotomo, Nano Warsono, dan Nurrohmad.

Sementara itu, tim riset melibatkan sejumlah akademisi dan peneliti, di antaranya M. Afif Isyarobbi, Dr. Arif Akhyat, Dr. Akhmad Nizam, Daniel Frits Maurits Tangkilisan, serta Susi Ernawati.

Kolaborasi Besar Pameran TATAH 2026

Pameran TATAH 2026 merupakan hasil kolaborasi antara Pemkab Jepara, HIMKI Jepara Raya, Rumah Kartini, Museum Nasional Indonesia, serta para kurator, peneliti, dan seniman.

Ke depan, pameran ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menghadirkan pameran seni ukir berstandar tinggi secara berkelanjutan.


Pameran TATAH 2026 menjadi sorotan karena mengubah cara pandang terhadap ukiran Jepara.


Berita Selanjutnya Berita Sebelumnya
No Comment
Add Comment
comment url