BPS Jepara Bedah Lima Indikator Stabilitas Ekonomi Lewat Literasi Statistik
![]() |
| Kegiatan literasi statistik BPS Kabupaten Jepara membahas lima indikator utama stabilitas ekonomi di MPP Jepara. Rabu (14/10/2026). |
JEPARA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jepara mengajak masyarakat memahami data perekonomian secara lebih kritis melalui kegiatan Literasi Statistik bertajuk “Membedah Angka di Balik Pengukuran Stabilitas Ekonomi” di Ruang Rapat Mal Pelayanan Publik (MPP) Jepara, Rabu (14/10/2026). Melalui kegiatan ini, BPS Jepara menjelaskan pentingnya membaca indikator ekonomi secara menyeluruh agar masyarakat tidak keliru menafsirkan kondisi perekonomian.
Kepala BPS Kabupaten Jepara, Isnaini, S.ST., M.M., dalam paparannya menekankan pentingnya memahami konteks di balik data statistik. Menurutnya, setiap angka memiliki definisi, pembanding, dan konteks yang perlu diperhatikan sebelum digunakan untuk menarik kesimpulan mengenai kondisi ekonomi.
BPS Jepara Bedah Lima Indikator Stabilitas Ekonomi
Dalam kegiatan literasi statistik tersebut, BPS Jepara memaparkan lima indikator utama stabilitas ekonomi, yakni
- Pertumbuhan ekonomi,
- Inflasi,
- Pengangguran,
- Sektor eksternal melalui neraca pembayaran, serta
- Nilai tukar dan cadangan devisa.
Kelima indikator tersebut saling berkaitan dan perlu dibaca secara bersamaan. Karena itu, pemahaman terhadap stabilitas ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan satu indikator, melainkan harus mempertimbangkan berbagai aspek yang memengaruhi kondisi perekonomian.
Dalam mengukur pertumbuhan ekonomi, misalnya, penggunaan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan menjadi penting. Ukuran tersebut dapat menggambarkan perubahan volume produksi dengan mengesampingkan pengaruh kenaikan harga.
Dengan demikian, pertumbuhan yang tercatat dapat mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi secara riil, bukan sekadar kenaikan nilai akibat perubahan harga.
BPS Jepara Jelaskan Cara Membaca Inflasi dan Pengangguran
BPS Jepara juga menekankan pentingnya memahami konteks ketika membaca data inflasi dan tingkat pengangguran. Kenaikan harga perlu ditelusuri berdasarkan komoditas dan penyebabnya agar kondisi yang sebenarnya dapat dipahami dengan lebih tepat.
Sementara itu, penurunan tingkat pengangguran belum tentu sepenuhnya mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut perlu dilihat bersama kondisi pekerjaan yang tersedia, termasuk apakah pekerjaan masih didominasi sektor informal atau berpenghasilan rendah.
Selain faktor domestik, perekonomian Indonesia yang terbuka juga dipengaruhi perdagangan internasional, aliran modal, dan pergerakan nilai tukar. Dinamika global tersebut turut memengaruhi aktivitas usaha dan daya beli masyarakat.
BPS Jepara Dorong Masyarakat Lebih Kritis Memahami Data
Melalui kegiatan literasi statistik, BPS Jepara mengajak peserta lebih kritis dalam membaca data dengan memperhatikan empat hal mendasar.
- Pertama, memahami apa yang menjadi pembanding suatu angka.
- Kedua, memastikan apakah angka yang digunakan bersifat nominal atau riil.
- Ketiga, melihat kondisi yang mungkin tersembunyi di balik angka rata-rata.
- Keempat, memeriksa sumber data yang digunakan.
Keempat hal tersebut menjadi bagian penting dalam memahami informasi statistik agar kesimpulan yang diambil tidak hanya didasarkan pada angka secara terpisah, tetapi juga mempertimbangkan konteks dan kondisi yang melatarbelakanginya.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jepara, Budhi Sulistyawan, diwakili Sekretaris Dinas Kominfo, Wahyanto.
Penguatan literasi statistik diharapkan mendukung pemanfaatan data yang akurat dan terverifikasi, baik dalam penyusunan kebijakan pemerintah maupun dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dengan pemahaman statistik yang lebih baik, data tidak sekadar menjadi deretan angka, tetapi dapat menjadi dasar untuk membaca persoalan secara objektif dan mengambil keputusan yang lebih tepat. (@ries)
